Dedaun itu,
Menari-nari mengikut rentak
alunan bayu.
Sesegar di dini hari,
Meliuk lentuk tanpa sebarang
sangsi,
Melambai-lambai menjenguk ativiti
manusia.
Dedaun Itu,
Mengingatkan aku akan akar
lingkar dan kusutnya,
Umpama umat manusia yg hidup
dalam kekusutan,
Manusia hilang perahu hidupnya,
Bagai biduk dilanda badai,
Terdampar dan tersadai di tebing.
Dedaun itu,
Mengingatkan aku akan perjalanan
hidupku,
Mengingatkan aku tentang masa
silamku,
Mengingatkan aku tentang masa
depanku,
Masih kelam dan berkabut,
Entah di manakah perhentiannya ?
Tak ku ketahui,
Bakal gugur menyembah bumi,
Resah gelisah aku.
Dedaun itu,
Kering setelah bugarnya,
Tandus setelah segarnya,
Kontang setelah tempohnya,
Layu setelah kembangnya,
Bak manusia di duniawi,
Terbang kembali kepada
penciptanya,
Dedaun itu,
Cerminan kehidupan aku,
Cermin sompek dan cacat,
Menggambarkan pohon usia manusia,
Pada akhir usia bongkok manusia,
Roh tercabut dan melayang,
Ke alam yang fana,
Mati dan hidup semula,
Abadi.
